Bitcoin dan Potensi Lonjakan Harga di 2025
Bitcoin (BTC) diperkirakan memiliki peluang menembus level $140 ribu—sekitar Rp2,2 miliar—menjelang akhir 2025. Walau begitu, sejumlah analis teknikal menilai 2026 berpotensi menjadi awal fase pasar bear yang tajam. John Glover, Chief Investment Officer di Ledn, menuturkan bahwa pergerakan BTC saat ini masih mengikuti pola Elliott Wave, menandakan bull run belum usai, meski puncaknya bisa diiringi koreksi signifikan.
Analisis Elliott Wave: BTC Masih dalam Tren Kenaikan
Teori Elliott Wave memetakan pergerakan pasar sebagai siklus psikologi investor yang terbagi dalam lima gelombang naik—tiga impulsif dan dua korektif. Menurut Glover, Bitcoin kini berada pada gelombang (iii) di dalam gelombang kelima yang lebih besar. Ia memproyeksikan harga BTC dapat melonjak ke kisaran $130 ribu dalam beberapa pekan ke depan, lalu terkoreksi sementara ke sekitar $110 ribu pada September.
Koreksi tersebut—gelombang (iv)—merupakan fase wajar sebelum puncak akhir tercapai. Selanjutnya, gelombang (v) diprediksi mendorong harga Bitcoin mencapai puncak di area $140 ribu menjelang penutupan 2025. Struktur ini tetap selaras dengan tren bullish sejak awal tahun, meski fluktuasi harga jangka pendek masih mungkin terjadi.
Koreksi Harga Baru-Baru Ini Masih Wajar
Bitcoin sempat turun ke bawah $112 ribu pada akhir pekan lalu, merosot sekitar 4 % dalam sepekan. Penurunan dipicu aksi profit-taking di sekitar $120 ribu dan pelemahan saham terkait kripto seperti MicroStrategy (MSTR) serta Coinbase (COIN). Glover menilai koreksi ini sebagai retracement sehat, bukan sinyal akhir bull run—malah berpotensi menjadi pijakan bagi kenaikan berikutnya.
2026: Akhir dari Bull Run?
Meski sebagian pelaku pasar berharap adopsi institusi melalui ETF akan memperpanjang siklus bullish Bitcoin, Glover melihat hal berbeda. “Begitu kita mencapai $140 ribu, sentimen akan mendorong target $250K atau bahkan $500K,” ujarnya. “Namun, justru di situlah saya melihat pintu masuk bagi pasar bear berikutnya.” Pernyataan tersebut bertolak belakang dengan pandangan bahwa kehadiran institusi dapat melemahkan pola siklus empat tahunan Bitcoin.
Kesimpulan
Selama 2025, Bitcoin masih berpotensi mencetak rekor harga baru. Namun, investor perlu mewaspadai potensi koreksi pasca-puncak. Pola historis dan analisis Elliott Wave menegaskan bahwa setiap reli besar lazim diikuti penurunan tajam. Mengelola ekspektasi dan strategi pengamanan keuntungan menjadi kunci sebelum memasuki 2026.
FAQ
Apa itu Elliott Wave dalam analisis Bitcoin?
Metode analisis teknikal yang memetakan pergerakan harga sebagai pola psikologi massa dalam lima gelombang naik dan tiga gelombang turun, membantu memprediksi puncak maupun dasar tren.
Kenapa BTC diprediksi bisa mencapai $140 ribu di 2025?
Karena analis menilai Bitcoin masih berada pada gelombang kelima pola naik, yang biasanya menandai fase akhir bull run sebelum koreksi besar.
Apakah semua analis setuju BTC akan turun di 2026?
Tidak. Sebagian optimistis adopsi institusi akan memperpanjang reli, sementara yang lain—seperti Glover—berpegang pada pola siklus teknikal yang menunjukkan potensi penurunan signifikan.
Apakah koreksi ke $110 ribu saat ini sinyal bear market?
Belum tentu. Penurunan tersebut dinilai sebagai retracement wajar sebelum reli lanjutan, masih sesuai dengan struktur Elliott Wave.
Bagaimana investor harus menyikapi prediksi 2026?
Tetap realistis dan disiplin. Pertimbangkan strategi lock profit sebelum potensi koreksi besar, sambil terus memantau indikator teknikal dan sentimen pasar.

